Antara Huawei dan USA
Raksasa teknologi Huawei dilaporkan memimpin dalam jumlah
paten komunikasi nirkabel sepanjang tahun ini. Perusahaan itu telah mengajukan
8.607 paten, suatu prestasi yang berkontribusi besar terhadap tiongkok yang kini
boleh dibilang setara dengan Amerika Serikat, dengan kedua negara masing-masing
menyumbang sekitar 32 persen dari jumlah paten wireless di seluruh dunia 2020.
Dalam penjualan smartphone huawei mendapat prestasi yang prestisius, pasalnya perusahaan yang mulai fokus menggrap smartphone pada 2015 terus berinovasi pada produk smartphonenya, Tahun 2016 huawei menggandeng perusahaan kamera ternama yaitu Leica pada seri Huawei P9, kerjasama ini melambungkan nama huawei di dunia. Inovasi huawei terus berlanjut tiap tahunnya, seperti supercharger tercepat dan teraman, serta smartphone pertama yang menggunakan Ai(artifical intilligent).Berkat teknolgi dan inovasinya tersebut huawei tidak bisa dipandang sebelah mata, terbukti smartphone huawei laku keras di eropa. Kita tau pasar eropa merupakan pasar yang mencari kualitas, bukan kuantitas. Hal tersebut membuat huawei menggeser apple di posisi kedua smartphone global dengan penjualan terbanyak pada Q1 2019 yakni dengan pertumbuhan 50% dengan jumlah 59,1 juta unit.(sumber : Lembaga riset IDC)
Dalam hal teknologi komunikasi dan jaringan, huawei memimpin sebagian besar paten 5G yang diklaim lebih cepat 10-20x dari pendahulunya yaitu 4G. Hal ini semakin membuat USA berpikir keras untuk menjegal dominasi huawei. (dikutip dari reuters 18/5/2019)
Presiden donald trump pada pidatonya menyatakan blacklist terhadap semua produk huawei salah satunya smartphone, ini artinya produk smartphone huawei yang dirlis setelah pernyataan Donald trump tidak bisa memakai google, hal ini membuat huawei berputar otak untuk menciptakan operating system sendiri. Harmony os sudah disiapkan huawei jauh sebelum trump mengeluarkan blacklist karena huawei sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Namun apakah blaclist terhadap huawei tidak menjadi boomerang buat amerika?
Sebelum
lebih jauh, kita simak bagaimana sejarah atau awal mula perseteruan antara
huawei dan USA hingga berbuntut blacklist dari amerika terhadap semua produk
huawei.
1.
Bermula di Masa Kepemimpinan Obama 2012
Perseteruan AS dengan Huawei dimulai pada era Presiden Barack Obama. Pada 2012, Reuters melaporkan Huawei memiliki hubungan erat dengan perusahaan bernama Skycom. Perusahaan ini dilaporkan menjual produk teknologi AS ke Iran. Saat itu Iran terkena sanksi dari AS. Penjualan produk teknologi AS tersebut dianggap melanggar aturan ekspor AS. Skycom sendiri merupakan perusahaan yang terdaftar di bursa Hong Kong. Faktanya, Huawei menjual saham skycom ke perusahaan cangkang lainnya yang juga dikendalikan oleh raksasa tekonologi china itu.
2. Huawei Diduga Curi Teknologi T-Mobile 2014
Selain tuduhan menyesatkan bank AS, anak usaha Huawei juga diduga mencuri teknologi robotik milik T-Mobile US Inc yang digunakan untuk menguji daya tahan ponsel pintar.
T-Mobile
telah menuduh Huawei mencuri teknologi yang disebut Tappy yang dapat menirukan
jari manusia dan digunakan untuk menguji smartphone. Berdasarkan dokumen
hukum, Huawei mencoba membeli Tappy, sebuah alat yang meniru jari tangan
manusia dengan menyentuh layar telepon genggam secara cepat untuk menguji
tingkat keresponsifan. T-Mobile kala itu tengah menjalin kerja sama dengan
Huawei, namun mereka menolak penawaran perusahaan China tersebut, karena
khawatir Huawei akan menggunakan teknologi itu untuk menciptakan telepon bagi
pesaing T-Mobile.
Diduga bahwa salah satu karyawan Huawei AS menyelundupkan lengan robotik Tappy ke dalam tasnya sehingga ia bisa mengirimkan rincian robot itu kepada rekannya di Cina. Huawei mengklaim bahwa karyawan tersebut beraksi sendirian, dan kasus itu telah diselesaikan di pengadilan tahun 2014 lalu. Namun kasus terakhir menunjukkan adanya jejak email antara para manajer Huawei di Cina dan para karyawan Huawei di AS, menyeret manajemen Huawei ke dalam pusaran tuduhan pencurian.
Dalam
memimpin paten teknologi 5G, Huawei memimpin jauh dibanding AS. Hampir seuruh
smartphone 5g di dunia sudah menerapkan paten dari huawei, hal ini membuat AS
mencurigai bahwasanya jaringan 5G yang huawei bawa membahayakn kemanan AS. Tudingan
semakin menguat karena latar belakang Ren Zhangfei. Sebelum mendirikan Huawei,
Ren Zhangfei muda merupakan mantan perwira militer China. Ia juga disebut-sebut
anggota dari Partai Komunis China. Namun
Ren Zhengfei(CEO Huawei) membantah tuduhan spionase tersebut dengan
menyatakan Huawei independen dan tidak akan tunduk pada keinginan pemerintah
China. Huawei juga menjamin perangkat mereka sangat aman. Ia menyatakan apa
yang dihadapi Huawei sekarang ini lebih terkait dengan masalah politis ketimbang masalah keamanan.
Hal ini bisa dibutkikan bahwasanya tidak ada bukti yang dapat diberikan oleh pemerintahan donald trump. Ini murni masalah politik internasional. Smartphone huawei sendiri menempati posisi kedua pada pasar smartphone global diatas apple, jika tidak dijegal ini akan membahayakan dominasi AS dalam bidang teknologi.
Lalu, apa dampaknya
untuk Indonesia?
· Dalam bidang ekonomi :
Indonesia harus berhati hati karena akan surplus produksi karena barang dari tiongkok dibatasi masuk ke AS, maka kemana Tiongkok menjual barang yang sudah terlanjur di produksi? Indonesia mejadi salah satu pasar empuk dikarenakan mereka tau bahwasanya kita menykai barang yang bagus dengan harga yang terjangkau. Ekspor akan semakin tinggi yang akan menyebabkan defisit neraca perdagangan, terbukti beberapa bulan terakhir sejak tahun 2018. Pemerintah harus bergerak cepat untuk mengambil langkah di tengah ketergantungan terhadap barang asing.
· Dalam bidang telekomunikasi :
Sejak tahun 2009 indonesia sudah menjalin kerjasama dengan huawei dibidang jaringan telekomunikasi. Bahkan untuk teknologi 5G indonesia meneken kerjasama dengan huawei. "Dengan bantuan Huawei, kami mengharapkan bisa meningkatkan kualitas sumber daya hingga tingkat internasional," ungkap seorang sumber yang dekat dengan kantor presiden, dikutip dari Nikkei Asia Review, Kamis (3/12/2020).
Perusahaan itu berkerja sama teknologi dengan salah satu operator tanah air Indosat Ooredoo. Keduanya akan menyediakan infrastruktur 5G di Jakarta dan wilayah lainnya. Sebelum Huawei, Nokia dan Ericsson sudah melakukan uji coba untuk jaringan 5G di tanah air.
Namun seorang sumber yang dekat dengan Telekomunikasi Indonesia menyatakan jika Huawei memberikan harga yang lebih murah. "Peralatan Huawei lebih murah 20 hingga 30% dan kualitasnya juga terus maju," ujar dia. Dalam hal ini pemerintah indonesia diharapkan lebih berhati hati pasalnya, pada tahun 2009 SBY beserta jajaran menterinya menjadi target penyadapan oleh pemerintah australia dimana kala itu tahun perdana huawei mengembangkan teknologi 3g di kawasan asia pasifik. Jangan sampai dikarenakan harga yang terpaut murah menjadikan privasi informasi di negara kita lemah.
M. Hendrik Eko Cahyono
📞 : 0895397074870


Komentar
Posting Komentar